Selasa, 11 Juni 2013

Pendidikan Yang Mendorong 4 : Sweet Childs O'Mine

It happens to everyone as they grow up. You find out who you are and what you want, and then you realize that people you've known forever don't see things the way you do. So you keep the wonderful memories, but find yourself moving on.” 

Nicolas Spark

  
Tidur saya malam ini kurang nyenyak, kemudian saya mengambil segelas air dan melihat ke arah langit melalui jendela. Kemudian saya mengingat kembali, sejak hari itu, yang mana saya seperti menapaki tangga yang menjulang tinggi ke langit. Selangkah demi selangkah saya tempuh, akan tetapi kemanapun mata saya memandang. Tidak ada apapun di sana, tidak ada yang dapat saya percaya, kecuali sekumpulan anak kecil itu. Di saat suka dan duka, mereka selalu bersama saya.

Seperti bintang yang menyinari biduk yang berlayar di lautan tanpa panduan peta. Hati saya senantiasa menerima karena mereka ada disini. Walaupun lelah dengan kekecewaan, mereka tetap di sini, murid-muridku yang manis. Meski petang bagai badai di tengah kota yang macet telah menanti saya, dan meski subuh bagai kunang-kunang yang menjemput embun.

Ketergesaan menghalangi jalan saya, saya belum bisa menemukan kata-kata yang tepat. Namun... meskipun tidak terlihat ujung dari semua ini, saya akan tetap berjalan. Walau saya tidak lagi masuk ke kelas anak-anak itu, saya akan terus bersinar karena mereka disini, walau saya sudah bergeser posisi di semester depan. Meskipun rasa kecewa merongrong, mereka dan saya masih tetap di sini, murid-muridku yang manis. Kita akan berjuang bersama, namun tidak lagi seperti dulu. Mungkin ceritanya sekarang berbeda. Namun kakak percaya satu hal, walaupun kalian aneh-aneh, terkadang kakak juga aneh. Menurut kakak aneh itulah yang membuat kalian spesial. Mabruk alf fi tadrisu lughatul arabiyah, my sweet childs o'mine.

0 komentar:

Posting Komentar