Kamis, 12 November 2015

Tanda-Tanda Seseorang Akan Meninggal

Sudah lebih dari 1 bulan 12 hari, ibunda saya telah berpulang ke Sang Pencipta. Semua terasa begitu berbeda sekarang ini. Saya merasa seperti ada lubang yang besar, lubang yang tadinya disitu adalah posisi ibu saya. Namun inilah hidup, bagaimanapun semua yang hidup pasti akan mati. Sedangkan bagi kita yang masih hidup wajib untuk menyelesaikan segala urusan atau tanggungan anggota keluarga yang sudah meninggal. Disinilah peran dari seorang anak yang berbakti kepada orang
tuanya harus dibuktikan untuk menjawab do'a-do'a orang tuanya ketika masih hidup. Seiring berjalannya waktu saya belajar menempati lubang yang ditinggalkan ibunda. Saya mulai belajar memasak dan mengatur dapur sekarang ini. Semoga saya bisa menciptakan masakan lainnya berdasarkan resep peninggalannya.

Sesuai judul yang saya tulis diatas, saya akan berbagi mengenai apa saja tanda-tanda yang saya alami sebelum ditinggalkan anggota keluarga yang akan meninggal karena sakit yang berkepanjangan.

Tanda-Tandanya adalah sebagai berkut :

1. Adanya mimpi yang menunjukan kepergian anggota keluarga yang akan wafat. Anehnya mimpi ini tidak menghampiri kami selaku anggota keluarganya. Mimpi ini menghampiri tetangga dekat kami. Dalam mimpi itu ibu saya pamit untuk pergi entah kemana. Namun tetangga saya melarang ibu saya pergi dalam mimpi itu. Setelah mimpi itu dia datang ke rumah kami pada pagi hari dan memberi tahu hal tersebut. Saya dulu juga pernah bermimpi hal yang sama. Namun itu dulu semasa saya SMA. Jadi saya tidak terlalu memusingkan mimpi tersebut. Toh, mendiang ibu memang suka ngomong mau mati saja kalau sakit terus, walau ibu masih harus terus mengonsumsi obat-obatan. Setelah tetangga melaporkan mimpi tersebut, ibu hanya berkata kalau do'akan saja semoga sehat selalu. 

PS : Ibu menderita berbagai macam penyakit. Mulai dari yang bisa disembuhkan dengan operasi, seperti usus buntu waktu saya masih SD, kemudian Kanker Rahim sewaktu saya SMP, yang menimbulkan Mioma dan konsekuensinya harus dioperasi angkat rahim. Sempat kami berobat dengan "bisa" ular kobra dari seorang pawang asal Tasikmalaya, namun Miomanya tumbuh lagi dan akhirnya kami memilih agar ibu dioperasi dan saya tidak berharap lagi untuk memiliki seorang adik yang ganteng atau cantik setelah saya memegang rahim yang telah diangkat dan ditunjukan oleh dokter dan suster untuk menguburkan rahim ibu. Selanjutnya ibu juga pernah sakit ambeien semasa saya kuliah di semester akhir dan kali ini beliau percaya bahwa itu penyakit yang terakhir dan harus dioperasi. Namun perlu waktu untuk ibu mengumpulkan kembali keberanian mengingat ini operasi ketiganya dalam hidupnya. Operasi ambeien berhasil kami lalui dengan metode straples dan potongan ambeiennya kembali saya yang menguburkan. setelah operasi itu ternyata ada lagi sakit yang harus dilalui dengan, yaitu operasi katarak dulu waktu akhir tahun 2013 semasa saya baru memasuki dunia karir dan menapaki program pascasarjana. Operasi katarak melalui dua tahap dan itu masih bisa ibu lalui juga dengan baik. Kemudian ada sakit yang hanya diobati saja namun kadang kambuh lalu sembuh. Hanya diberi obat dan mengkondisikan lingkungan saja sudah cukup buat ibu. Penyakitnya adalah sakit jantung, sering sakit kepala, pengapuran di lutut, rematik yang kadang kumat. Berbagai macam obat-obatan kami belikan, dari obat herbal, obat cina, sampai obat keras kelas wahid dia konsumsi.

2. Ketika sakit menjelang meninggal, ada penyakit baru yang muncul. Inilah penyebab utama kepergian ibu saya. Penyakitnya adalah sebuah bisul yang tidak ada matanya. Sempat saya berbagi cerita dengan penunggu pasien di rumah sakit yang satu paviliun dengan kami sewaktu jam mandi pasien dan kami disuruh keluar oleh perawat, mereka banyak yang menyebut bahwa itu adalah penyakit bisul buta, karena tidak terdapat mata seperti bisul pada umumnya. Bisul buta ini katanya harus ditangani sebelum besar dan pecah. Bagi pasien yang mengalami bisul buta harus segera dioperasi kecil dan memungkinkan pasiennya bisa pingsan selama dua hari karena bisulnya dibelah dan itu merupakan penderitaan yang menyebabkan pasien pingsan karena sakit sekali ketika dibelah. Namun sayangnya, ketika bisul sudah muncul ibu tidak mau dibawa ke rumah sakit dan selalu menolak bnerobat kecuali mengonsumsi obat antibiotik dan salap Fusycom Fusicid Acid yang dioleskan pada bisul, serta mengompres dengan Rivanol saja. Setelah pecah bisul tersebut, ibu tak kunjung bisa jalan juga. Sebelumnya pernah bisulan juga namun setelah pecah ibu bisa jalan seperti biasa dan beraktifitas seperti biasanya. Namun kali ini dia hanya bisa berbaring saja di tempat tidur.

3. Sulit  makan, sekalipun itu makanan yang dia minta atau kesukaannya. Ketika berbaring di tempat tidur, dia suka meminta makan-makanan kesukaannya. seperti sop buah, ayam goreng Kentucky, Jus Pepaya, buah mangga indramayu, nasi uduk, ayam bakar, dll. Ketika kami penuhi hanya dimakan sesuap sampai dua suap, sisanya kami yang habiskan.

4. Pembicaraan mulai ngawur atau tidak sesuai pokok pembicaraan. Ibu mulai ngawur dan menceritakan pekerjaannya yang mana terdapat orang-orang yang baik padanya. Padahal saya memberitahukan ada SMS dari atasannya yang menyuruhnya rapat pada hari dan jam tertentu.

5. Menarik tangan dari ujung tempat tidur ke ujungnya lagi. Kode keras ini yang menyaksikannya adalah pembantu kami. Ketika ibu minta dikerok dan dipijat badannya, saat itulah pembantu kami melihat kalau ibu menarik tangannya dari ujung tempat tidur ke ujung lainnya yang segaris lurus. Namun dia tidak bilang kepada kami. Dia baru bilang setelah ibu wafat. Dia khawatir kami tidak percaya dan tersinggung dengan kode keras tersebut. Jadi kalau dikampung katanya orang yang menarik ujung tikar alasnya itu adalah kode bahwa dia hidupnya tidak lama lagi.

6. Tidak mau dibawa ke Rumah Sakit. Ketika kami berusaha membujuk ibu agar dibawa ke rumah sakit, dia selalu menolak dan menyuruh kami hanya mengobatinya saja dan memenuhi apa yang jadi keinginannya seperti makanan kesukaannya. Kami selaku anggota keluarga tidak tega dengan kondisi ini dan berinisiatif untuk menghubungi tetangga setempat agar menggotong ibu masuk ke mobil kami. Inipun juga panjang, karena saya dan ibu harus perang urat syaraf dengan argumen hingga dia menangis karena tidak mau dibawa ke ruamh sakit. Akhirnya kami dan tetangga menggotongnya secara paksa masuk ke mobil dan kami bawa ke rumah sakit. Ambulance yang kami pesan pada sebuah rumah sosial yang beratribut instrumen keagamaan kami urungkan karena saat itu malam takbiran Idul Adha tahun ini, tahun 2015. Diperjalananpun saya senantiasa dimarahi padahal saya dan ayah sudah mengupayakan yang terbaik untuknya. Tapi saya tidak tahu bahwa itu mungkin jadi omelan-omelan terakhir dari ibu untuk saya. Jadi yaaa.. seperti biasa, saya anggap itu perang urat syaraf lagi.

7. Senantiasa berbicara ngawur dan hilang kesadaran karena mungkin sakitnya yang tidak tertahan. Ketika sampai di rumah sakit, ibu masuk IGD dahulu. Setelah didiagnosis ternyata leukositnya sudah tinggi. Harus dimasukan ruang isolasi. Akhirnya setelah masuk dia mengira kalau ruangan isolasi itu adalah rumahnya. Dia menanyakan mana remote TVnya, mana lemari bajunya, mana tas kerjanya, padahal disitu masuk ruang isolasi.

8. Mencoba mencabut infus yang sudah dipasang. Inilah yang mungkin jadi kemarahan terakhir saya kepada beliau. Saya memarahinya karena tindakan tersebut dan direlai oleh ayah dengan tangisan. Ibu juga turut menangis karena kemarahan saya atas tindakan anehnya itu.

9. Senantiasa meminta pulang ke rumah. Inilah yang selalu diminta ibu ketika di rumah sakit. Kita hanya bisa bilang kalau ibu sudah sembuh dari "rumah sewa" ini kita pasti pulang. 
 PS : Ibu sebenarnya tahu kalau dia di rumah sakit, kita mengubah kata jadi rumah sewa agar dia betah dan tidak mengulang permintaan mau pulang. namun nayatanya dia tetap minta untuk pulang dengan berbagai cara yang dia sampaikan kepada kami. mulai dari cara yang baik-baik, hingga cara kabur dari rumah sakit.

10. Membuat candaan yang menghibur kami yang menunggu kesembuhannya. Menjelang hari wafatnya, ibu banyak didatangi kerabat dari ayah, tetangga, dan rekan kerjanya. Dia menunjukan perkembangan yang menjanjikan sesuai prediksi dokter, namun untuk makan obat dia tidak mau. Sehingga kami akali dengan menggerusnya dan dicampur ke makanan dan minumannya. Sehari sebelum hari wafatnya, dia bercanda dengan ayah saya sampai dini hari pukul 3 pagi. Setelah pukul 4 menjelang subuh, ibu drop dan menggengam tangan ayah saya dengan sangat erat. Pada hari itu tadinya saya memutuskan untuk tidak menemani ayah saya di rumah sakit tadinya, namun seketika hari kamis tanggal 1 oktober itu berubah pikiran saya. Saya mengalami tidur tidak nyenyak di hari sebelumnya. Biasanya sepanas dan sedingin apapun saya pasti tidur. Pada hari itu saya putuskan menginap bersama ayah saya.

11. Matanya senantiasa tertutup, nafasnya kencang dan berat, namun mendengar apa yang kita katakan kepadanya. Tidak ada bubur sum-sum seperti biasanya untuk sarapan ibu. Jam 8 Pagi dokter yang memprediksi kondisi ibu akan pulih dan dipertimbangkan untuk dioperasi, pada hari itu datang lagi, ternyata meleset prediksinya dan menyarankan kami untuk memasukan ibu ke HCU. Saya hanya menjawab kepada dokter itu dengan sebuah pertanyaan, apakah ada jaminan bahwa ibu saya paling tidak bisa makan seperti biasanya jika masuk HCU? Dokter hanya membalas Yaa namanya kita usaha, mas. Namun kami menolak untuk itu, bukan karena biayanya sehari di HCU 5 juta rupiah, tapi karena saya dan ayah sudah tahu kalau waktu untuk ibu di dunia hampir selesai dan kami tidak mau membuat malaikat Izrail sulit menjemput ruhnya. 

Hari itu hanya diberi susu oleh Rumah Sakit. Untuk meminumkan susu kepadanya, saya harus mengatakan kepada ibu di dekat kupingnya untuk membuka mulutnya agar saya bisa meminumkan susu untuknya lalu membuka alat bantu pernafasannya dahulu agar beberapa sendok susu bisa saya suapi untuknya. Sampai jam 4 sore saya menyuapinya hingga nafasnya turun stabil dan ibu tidak mau membuka mulutnya lagi agar bisa saya suapi susu. Selepas ibadah maghrib saya hanya bisa mendoakan agar apabila masih diberi amanah saya akan curahkan seluruh hidup saya untuk menjaganya dengan segala konsekuensi yang harus saya tanggung, namun jika memang harus kembali Ruhnya kepada sang Pencipta, saya hanya minta tolong ambil ruhnya dengan tenang, jangan disontakan atau dipaksa. Setelah itu saya membacakan Surat Yasin untuknya karena itu malam Jum'at. Setelah itu ada kerabat ayah yang menjenguk dan saya menjaganya. Sehabis Isya, matanya masih senantiasa tertutup sedari pagi, dan nafasnya mulai menghilang. Jam 8 kurang 10 saya coba panggil suster untuk mengecek tensi darahnya. Hasil pengecekannya mengejutkan, dari sepanjang siang hingga sore tetap stagnat di angka 90/60, turun jadi 80/50. Namun anehnya tangan dan kaki ibu saya tetap hangat ketika menjelang wafat hingga wafat di rumah sakit, biasanya orang yang akan meninggal tangan dan kakinya dingin. Seketika itu suster langsung mengambil alat bantu pernafasan beserta monitor mininya. Dokter datang, dan mengecek matanya yang senantiasa tertutup, ternyata matanya sudah tidak ada pada jam 8 malam pas, tanggal 1 Oktober 2015. Kami harus belajar ekstra tabah dan ekstra sabar tingkat dewa seketika itu juga. Saya hanya bisa menangis setelah kepergian dokter dan perawat yang akan menyiapkan selimut penutup untuk ibu saya. Saya menangis karena saya teringat kalau banyak menghabiskan waktu bersama ibu semasa hidupnya. Kemanapun saya dan ibu selalu bersama karena ayah sibuk cari nafkah untuk kami, kecuali akhir pekan. Sebagai anak tunggal saya juga merasa banyak janji yang belum saya tepati kepada ibu saya, masih belum bisa menemukan jodoh hidup saya, apalagi keturunan. Ayah tidak menangis dan berusaha menenangkan saya dengan memeluk saya. Setelah itu kami berusaha menghubungi keluarga, kerabat, dan serta rekan kerja ibu untuk memberi tahu kalau ibu sudah pergi.

Demikianlah tanda-tanda kepergian seseorang ketika waktu kembalinya sudah tiba. Tidak ada yang bisa menawar dan memberhentikan waktu yang terus berputar. Semoga pembaca bisa mengambil hikmah dan pembelajaran dari tulisan sederhana saya ini. Semoga dalam menangani orang yang akan meninggal lebih baik dari diri saya. Aamiin.

3 komentar:

Unknown mengatakan...

Kak alm ibunya dulu minta dipijitin setiap waktu apa enggak??

Maysar mengatakan...

WINNING303 SITUS JUDI ONLINE TERBESAR DAN TERBAIK

Winning303 adalah salah satu situs judi online yang sedang berkembang menuju yang terbaik diantara lainnya. Untuk itu kami memberikan bonus Spesial kepada seluruh member-member kami seperti :
- BONUS WELCOME 20%
- BONUS DEPOSIT 10%
- VONUS CASHBACK 5-10%
- BONUS 7x WIN SABUNG AYAM
- PROMO DISKON TOGEL SAMPAI 65%
- BONUS ROLINGAN 0.5%
- 1% ROLINGAN SLOT
Yuk segera daftarkan diri anda bosku, untuk menikmati bonus-bonus diatas. Terima kasih. Daftar
Hubungi kami di :
WA : +6281717177303
atau langsung di Livechat kami di www(titik)winning303(titikk)net

Winning303




Unknown mengatakan...

Ketika detik2 sakratul maut ibu apakah dada kk sesak.karna pada saat sakratul maut papa saya saya merasakannya.tp saya tidak dalam posisi didekatnya.

Posting Komentar